Abah Hamid, Selamat Jalan Sahabat
- abah obituary
- Feb 15, 2021
- 1 min read
Semangkuk kari ayam mengawali perkenalan dan obrolan saya dengan Abah Hamid dan keluarga kecilnya sore itu di apato kecilnya, Kyoto beberapa tahun silam. Saat itu, saya adalah pendatang baru di kota tersebut, sedangkan Abah Hamid adalah mahasiswa doktoral tingkat akhir yg akan segera mendapatkan gelar PhD-nya.
Saat pertama bertemu, dalam hati terbesit tanya: “kok dipanggil Abah sih, padalah masih muda”, ah mungkin panggilan anak-anak di keluarganya, tapi kenapa semua orang juga manggilnya Abah ya? Saat obrolan mulai mengalir, tak perlu waktu panjang dan tanpa jawaban lisan, saya dapat jawaban tersebut. Sosok dewasa dan ke-Bapak-an memang sangat tepat disematkan di depan namanya, Abah Abdul Hamid (Abah Hamid). Obrolan terus mengalir, dan akhirnya saya tau kalau ternyata kita berkeja di Kota yang sama di Serang-Banten.
Beberapa waktu berselang, tepatnya pada Sept 2015, kami dan sebagian warga Indonesia di Kyoto berkumpul dan menghabiskan waktu bersama di salah satu tanah lapang di sisi Kamo-gawa, spot favorit kami. Hari itu, kami semua merayakan keberhasilan pencapaian gelar Master dan Doktor kawan-kawan pelajar Indonesia, salah satunya Abah Hamid.

Waktu berlalu, kami berkesempatan bertemu kembali di Serang Banten. Sebuah project penelitian menghantarkan Abah Hamid untuk berkunjung ke kantor saya di Serang Banten. Masih sama, sosok yang sederhana, berwibawa, bersahaja dan dewasa tetap melekat padanya. Diskusi ilmiah pun melebur dengan candaan ringan tentang kenangan semasa di Kyoto. Menjelang sore, Abah Hamid pamit untuk pulang. Dari atas sepeda motor Abah Hamid melambaikan tangan dan senyum khasnya. Ternyata Itu adalah senyum terakhir yg saya lihat darinya.
Selamat jalan sahabat. Selamat beristirahat dengan tenang.
Serang, 13 Feb 2021.
Andy Saryoko
Comments