top of page
Search

Abah Hamid

  • Writer: abah obituary
    abah obituary
  • Feb 19, 2021
  • 2 min read

Updated: Feb 20, 2021

Abdul Hamid, nama yang sering lalu lalang di forum komunikasi para karyasiswa DIKTI. Saya lega ada temannya di Kyoto yang sesama penerima beasiswa DIKTI. Saya bisa bertanya terkait prosedur dan birokrasi. Plus bangga juga akhirnya bisa ketemu selebnya penerima beasiswa DIKTI. Kemudian saya tahu bahwa ternyata Pak Abdul Hamid ini mem-branding dirinya dengan sebutan “Abah Hamid”, baik di dunia maya maupun dunia nyata (yang pasti bukan temen sekolah dan kuliahnya ya). Saya berpikir, pasti ini orang punya karakter yang sangat kuat dan bisa mempengaruhi orang.

ree

Dan ternyata benar! Mulai tahun 2014, saya dan keluarga cukup intens berinteraksi dengan keluarga Abah Hamid. Anak-anak sangat nyaman dan bergembira bisa main dengan Mbak Ayal dan Ilham. Ngobrol dengan Abah Hamid dan Mbak Ulil juga sangat menyenangkan. Baru kali ini saya menikmati ngobrol politik dengan Abah dan mbak Ulil, random dari A-Z. Dari Abah, saya belajar banyak, perlunya kita punya mental yang kuat. Supaya kita tidak dalam kondisi orang lain punya kesempatan menindas kita. Sepertinya level berani saya jadi naik 1 level sejak gaul dengan Abah. Lumayanlah…untuk orang yang cuman bisa nangis kayak saya. Dari Abah juga, tanpa sadar saya belajar bagaimana menyampaikan hal yang kritis dengan bahasa yang tidak menyulut kemarahan. Kami banyak menghabiskan waktu escape bersama di sela-sela rutinitas dan penatnya ngelab. Meski sederhana dan menyukai hal-hal yang gratis, semuanya begitu membahagiakan dan menjadi kenangan indah buat kami.


Setelah lulus, setiap Abah atau mbak Ulil ke Jogja, kami selalu menyempatkan bertemu. Demikian juga ketika saya atau suami saya ke Jakarta, Abah atau mbak Ulil juga selalu menyempatkan menemui kami. Pulang mudik pun, kami menyempatkan bertemu di Surabaya. Bener-bener sudah seperti keluarga. Abah pun selalu siap sedia setiap saya minta bantuannya. Abah juga tidak pernah bosan menanyakan “Mbak, udah ngajuin professor?”. Terima kasih Abah!


Ketika Abah sakit dan kritis di ICU, kami yakin bahwa itu hanya sementara. Abah yang kuat akan bisa melewati masa kritis. Ternyata Sang Pencipta berkehendak lain. Allah lebih tahu tempat terbaik untuk Abah saat ini. Hamba-Nya yang penuh semangat menebar kebaikan dan meluruskan yang bengkok dimanapun berada. Kami yakin Allah memuliakan Abah, demikian juga Allah akan senantiasa merahmati Mbak Ulil, Mbak Ayal dan Ilham. Aamiin.


Mbak Ulil, Mbak Ayal dan Ilham yang kami sayangi…Kami semua insya Allah selalu ada dan selalu mendukung mbak Ulil, Mbak Ayal dan Ilham. Tetap semangat dan berkarya!


Riris-Jogja


 
 
 

Comments


©2021 by Abah Hamid Obituary. Proudly created with Wix.com

bottom of page