Bantenku yang Kucinta
- abah obituary
- Feb 15, 2021
- 3 min read
Updated: Feb 16, 2021
Pada Mei 2014, Ratu Atut Chosiyah, perempuan pertama yang menjabat sebagai gubernur di Indonesia, resmi dinon-aktifkan setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi pengadaan alat kesehatan di provinsi Banten. Dalam sidang pengadilan beberapa bulan kemudian, ia dijatuhi hukuman penjara. Sebagai anak dari Haji Tubagus Chasan Sochib, ia tidak hanya mewarisi jaringan kekerabatan tapi terlebih pula jaringan kekuasaan sehingga mampu “mengeksploitasi sumber daya negara, dan menggunakan birokrasi guna memperkuat mesin politik dan mengkonsolidasi kekuasan politik di aras lokal” (Hamid 2014).
Abdul Hamid memang menaruh perhatian besar atas persoalan tata kelola pemerintahan dan korupsi kronis yang terjadi di provinsi Banten, tempat asal kelahirannya. Usai lulus dari Universitas Indonesia, ia sempat mencoba peruntungannya dalam pertarungan politik lokal pada 2004, dalam alam demokratisasi yang baru dialami Indonesia. Sebuah peluang bagi anakmuda untuk membawa perubahan. Namun, ia kalah. Tapi, ia tidak malu mengakui kekalahannya tersebut. Hal tersebut malah memicunya untuk mengenali akar-akar jalinan kekerabatan yang berkelindan erat dengan jaringan kekuasaan yang ada. Justru dari situ pula, ia menjadi orang pertama yang mempelajari dengan seksama dan mendalam tema tersebut, yang kini lazim disebut “dinasti politik.”
Ia mengumpulkan banyak data, mengadakan serangkaian wawancara dengan sejumlah tokoh masyarakat, dan menelaah berbagai kepustakaan terkait, termasuk perbandingan dengan provinsi lain dan juga manca negara. Dengan itu semua, ia berhasil menyusun disertasi untuk diajukan di Universitas Doshisha di Kyoto dan meraih gelar doktoralnya pada 2015. Pada masa-masa studinya itu pula, saya memperoleh kesempatan mengenalnya lebih dekat dan menjalin persahabatan nir-sekat. Saya yang saat itu masih membujang selalu diajak berkumpul bersama dengan keluarganya dalam berbagai acara.

Di Kyoto, kami sering berbincang-bincang santai di beberapa kedai teh. Kebetulan ia gemar teh genmai-cha 玄米茶, salah satu teh hijau Jepang yang dicampur dengan beras pirang bakar. “Harum,” katanya. Sambil lalu, ia pernah menyatakan ingin ikut lari marathon Kyoto, yang kebetulan saat itu dihidupkan kembali sejak 2012, dan tiap tahun diselenggarakan di akhir musim dingin (Februari). Ia sempat berlatih serius, karena “ingin kurus seperti waktu muda,” katanya, sambil memperlihatkan foto-foto dirinya saat berlatih silat di masa muda.

Di berbagai pertemuan, ia berbagi keprihatinannya akan kondisi sosial Banten, dan juga sejumlah gosip politik mutakhir dari tanah air. Keprihatinan yang dibalut akan semangat perubahan. Juga sempat ia mempersoalkan kondisi perguruan tinggi yang tergerus dalam birokratisme. Malah, ia menyatakan keinginannya untuk mendalami soal-soal seputar dunia perguruan tinggi untuk kajian lebih lanjut.
Karena itu, bukan hal yang aneh melihat dirinya sebagai orang yang ingin mengubah Banten menjadi lebih baik, lebih maju, dan pastinya bersih dari cengkeraman “dinasti politik.” Pilihannya untuk kembali ke Banten, mengajar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, adalah bukti kecintaannya untuk mewujudkan perubahan itu dari bawah – meski mudah baginya untuk membina karir di kampus luar negeri sebab ia telah menghasilkan sejumlah artikel akademis bermutu dan punya tingkat sitasi akademis yang tinggi.

Darinya saya belajar arti pengabdian dalam pendidikan. Ia menjadi seorang dosen pembimbing yang mumpuni. Dengan penuh kelakar ciri khasnya, pekerjaannya sebagai dosen dirangkumnya sebagai “dosen malaikat, dosen killer, dosen PHP, dosen (sok) sibuk, dosen males, dosen detail, dan dosen motivator” (Hamid 2021). Ia telah membuktikan bahwa mendidik generasi masa depan dan birokrasi pemerintahan di Banten menjadi kerja nyata yang sama pentingnya dalam membawa perubahan sosial.
Pertemuan kami terakhir pada 6 Februari 2016, beberapa hari sebelum Imlek, di Jakarta. Meski sibuk didera pekerjaan kampus, ia masih punya waktu mengajak saya dan pasangan saya menyaksikan tarian barongsai di mal Kalibata. Sambil menyeruput kopi, ia sempat menyatakan keinginannya untuk “membuka wawasan baru” mengenal dunia kampus di luar negeri, termasuk juga di Eropa. Pada November 2018, ia terpaksa batal menghadiri acara seminar yang saya susun di Tokyo karena mesti mengurus keperluan kampusnya. Kami tetap bertukar kabar, dan saya selalu menikmati berbagai unggahannya di media sosial: selalu segar dan penuh semangat. Terakhir, dalam surel pada 4 Februari 2021, ia mengirim kabar pendek, “Gw harus di rumah sakit. Doain ye.”
Terima kasih, Abah Hamid, atas persahabatan yang tulus dan kecerdasan yang membumi. Harapanmu akan perubahan demi Banten yang permai tetap menjadi api semangat kami meniti hari demi hari sampai saat kita bertemu kembali.
- Jafar Suryomenggolo
Comments