top of page
Search

Dosen yang Membuat Mahasiswa Berbangga

  • Writer: abah obituary
    abah obituary
  • Feb 16, 2021
  • 2 min read

ree

Di Mokpo National University di Korea Selatan pada Mei 2013, saya bertemu pertama kalinya dengan Abdul Hamid, peserta muda yang ikut presentasi dalam The 3rd Joint Symposium yang diselenggarakan oleh KASEAS (Korean Association of Southeast Asian Studies) and CSEAS (Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University).


Pada hari pertama pertemuan itu, ia segera memberi oleh-oleh dari Kyoto untuk saya, yaitu buku-buku tentang gerakan buruh Indonesia yang dititipkan oleh seorang sahabat.

Pada hari kedua, ia mempresentasikan makalahnya, "Political Clans and Budget Scandals in Decentralized Indonesia: Case Studies of Banten Province and Cilegon Municipality" di dalam panel yang disusun oleh Mario Ivan Lopez. Saya tertarik sekali dengan presentasinya tersebut karena idenya baru dan kualitasnya tinggi. Masih saya ingat perasaan ketika itu.

Saya sungguh terkesima karena presentasinya sangat empiris mendalam (empirically deep) dan sangat mendetail tentang persoalan “political dynasty” di tingkat provinsi di Indonesia. Saya menjadi sadar bahwa dosen muda ini menjadi “bintang baru” (rising star) dalam galaksi akademi studi Asia Tenggara.


ree

Beberapa tahun kemudian, kita bertemu lagi di Serang, Banten pada September 2019. Mas Hamid menyelenggarakan The 1st International Conference of Democratization in Southeast Asia dan mengajak saya sebagai salah satu Keynote speakers. Tiba di Jakarta, saya sungguh kaget karena dijemput oleh dosen dan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di bandara Soekarno-Hatta. Tampak jelas, Mas Hamid begitu melindungi tamu dan menyiapkan konferensi dengan sangat teliti.


Sepahaman saya, setelah diberitahu Professor Okamoto Masaaki, Mas Hamid mengajak saya karena mendengar pengalaman saya membentuk JISEAS (Jeonbuk National University Institute of Southeast Asian Studies). Mas Hamid punya rencana untuk membentuk lembaga serupa, Pusat Studi Asia Tenggara di Untirta yang ia cintai. Untuk tujuan itu pula, dia menyusun panel khusus diskusi strategi pembangunan pusat studi Asia Tenggara bersama Professor Yoko Hayami, Direktur CSEAS Kyoto University.


Hari terakhir konferensi itu, Mas Hamid bertemu dengan saya untuk sarapan pagi bersama di hotel. Ia sempat menyampaikan bahwa hal yang paling senang baginya terkait konferensi itu adalah mahasiswa-mahasiswinya bisa merasa berbangga karena mereka jadi punya pengalaman mengadakan konferensi internasional sebesar ini. Sebagai sesama seorang dosen universitas di daerah (bukan di ibukota), saya cukup mengerti dan merasa hormat atas pemikiran Mas Hamid tersebut. Para mahasiswa-mahasiswi Untirta tampak senang sekali dengan konferensi tersebut. Saya juga dipotret bersama para mahasiswa-mahasiswi Untirta berulang kali. Jadi saya pikir Mas Hamid bisa dianggap sebagai dosen yang berhasil membuat mahasiswanya berbangga dan percaya diri.


Saya mau mengucapkan terima kasih sekali lagi. Gamsa-hamidah, thanks to Mas Hamid, saya bisa menikmati pertemuan dengan banyak kawan lama dan baru di Banten. Terlebih, JISEAS mendapat kesempatan menyusun MoU bersama dengan Untirta dan CSEAS. Sayang sekali kerjasama kita belum sepenuhnya tuntas, dan belum bisa menyaksikan terbentuknya Pusat Studi Asia Tenggara di Untirta. Selamat jalan, Mas Hamid!



Je Seong Jeon

Professor, Department of Political Science; Director, Jeonbuk National University Institute for Southeast Asian Studies, Jeonju, Korea.

 
 
 

Comments


©2021 by Abah Hamid Obituary. Proudly created with Wix.com

bottom of page