Kenangan bersama Abah
- abah obituary
- Feb 14, 2021
- 2 min read

Kami sekeluarga berangkat ke Kyoto di bulan Oktober 2014 karena saya melanjutkan pendidikan
Fellowship di Kyoto University Hospital. Berlima. Dengan 3 orang anak termasuk si bungsu yang
belum genap 3 tahun. Kami dapat tinggal di sebuah apato lama yang cukup dekat dengan hospital tempat saya belajar, dibantu Pak Ishaq Dosen Unhas Makassar mahasiswa S3 Doshisa University yang kemudian menjadi sahabat baik.
Pak Ishaq mengenalkan kami dengan sahabat sekolah sekaligus sahabat ngopinya .. Abdul Hamid, yang seantero orang Indonesia di Kyoto memanggilnya Abah Hamid. Entah karena auranya yang berwibawa atau wajahnya yang memang sangat kebapakan meski usianya masih sangat muda.
Seperti umumnya keluarga-keluarga pelajar Indonesia di Kyoto yang membawa keluarga
akhirnya keluarga kami pun menjadi dekat. Di satu waktu liburan natal 25 desember 2014
Keluarga Abah Hamid mengajak kami ke Kobe, mau main salju di Mount Rocco katanya. Dan kami pun 3 keluarga berangkat bersama. Keluarga Abah Hamid, Keluarga Mbak Riris yang dosen dari UNS dan Keluarga kami.
Menginap semalam di rumah saudara Abah Hamid di Kobe menjadikan saya dan Abah Hamid
menjadi cukup dekat. Sisa malam di Kobe kami gunakan untuk ngobrol panjang. Semacam ada
“chemistry” yang nyambung. Mungkin karena beliau mantan Ketua Sema Fisip UI di masanya dan .. Aktivis HMI!!
Kami bisa berdiskusi tentang apa saja, tentang dunia aktivis sampai politik. Ada kesamaan
“selera”. Orangnya sangat cerdas, pergaulannya luas, wawasannya jauh dan dalam. Cita-citanya
sangat tinggi dengan visi yang jelas. Ada Langkah-langkah terukur yang sudah bisa dia gambarkan saat itu tentang visi masa depannya setelah balik ke Indonesia.
Tentang Abah Hamid saya terkesan dengan kemampuan verbalnya yang baik, bicaranya kalem
dan kadang lucu, kalimatnya selalu menarik dan tidak membosankan. Dan yang lebih hebat lagi
kemampuan menulisnya yang luar biasa. Kisah perjalanan, hobi, pengalaman dan banyak
gagasannya tentang apa saja bisa mengalir renyah di blog abdulhamid.id/cerita harian seorang
abah yang dia buat. Bahkan sampai saat ini jika saya ingin tahu kabarnya, maka saya tinggal
membaca blognya.
Di pertengahan tahun 2015 kami balik ke Indonesia. Tidak banyak lagi kontak yang kami lakukan. Tapi keluarga kami tetap terhubung baik karena Mbak Ulil isteri Abah Hamid asli orang Surabaya sehingga kadang keluarga kami masih bisa bertemu saat Mbak Ulil dan anak-anak datang ke Surabaya.
Hari ini sabtu 13 Pebruari 2021 di pagi Surabaya yang mendung kami dikejutkan dengan berita
duka. Sahabat kami .. Abah Hamid telah kembali kepada Robbnya. Berpulang setelah banyak
legacy dan kenangan yang beliau tinggalkan. Inna lillahi wainna ilaihi roojiun .. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu. Semoga Allah SWT mengampuni dan merahmatimu Abah Hamid.
Maka benarlah apa yang ditulis Sahabat terdekat Abah Hamid, Pak Ishaq Thepappito di
Instagramnya :
Dear Hamid San,
You will always be remembered. Rest in Peace.
Saya melewati masa-masa studi di Kyoto bersama, teman dalam segala hal. Hari ini dia telah
menyelesaikan perjalanan di dunia.
Tenanglah di sisi-Nya.
Kami saat ini yang tinggal. Membaca ulang jejakmu. Belajar lagi dari semua yang telah engkau
tuliskan. Legacy terbaik telah kau ukir, dan Allah SWT telah memilihmu sebagai syahid di masa
wabah.
Kami akan belajar lagi menjadi orang baik .. seperti selama ini engkau dikenal.
Semoga Allah SWT menempatkan di jannahNya yang tertinggi. Aamiin.
Surabaya, 13 Pebruari 2021
Muhammad Shoifi dan Keluarga
Comments